Alat Musik Tradisional Sunda? Ayo Intip Bersama!

Banyaknya suku, budaya, dan seni di Indonesia yang membuat perbedaan tampak lebih indah jika kita mencoba untuk menutup ego kita dan meningkatkan rasa kemauan untuk berbagi dengan kita, orang-orang yang mencoba mengadu kita, kita mau, dan ingin terima dorongan.

Sebagai gantinya kita dapat mendiskusikan hal-hal yang dapat membuat tanah terbelah, mari kita bersama dan berbagi pengetahuan kita tentang alat musik tradisional, untuk itu lihat ulasan berikut ini.

 

Bangbaraan

Bangbaraan

Bangbaraan adalah alat musik tradisional Sunda yang diwarisi dari kerajaan sukapura yang terbuat dari bambu yang bernada seperti karindang dan digunakan untuk digunakan oleh anak-anak menggiring kerbau.

Terutama ketika digunakan untuk ritual misalinitas, Misalin adalah tradisi pemurnian dan pengiriman makanan (pontrang) yang dilakukan setiap kali melakukan Ramadhan.

Bentuknya seperti pisau angklung. Salah satu ujung segmen dalam ekspresi sampai memiliki dua sisi, lubang dibuat di tepi kain, ketika suara terdengar seperti karinding.

Bambu yang dipilih berkualitas dan tua, bambu dikeringkan di bawah sinar matahari selama tiga bulan sebelum dibuat untuk penggunaan celempung atau bangbaraan.

Dalam seni karinding, pemain membutuhkan alat bantu sistem suara sehingga suaranya keras, tetapi untuk sesaat tidak membutuhkan alat, suara yang dihasilkan dari tiga pasang pasar sudah cukup untuk kita dengar.

Tentu saja kompilasi dilakukan, tidak hanya dunia yang dimanipulasi. Ada juga celempung, kempiring, dan kecrek.

 

Cacaian

Cacaian

Cacaian adalah alat musik tradisional Sunda yang cukup unik. Terlepas dari ukurannya yang sangat kecil, alat musik tradisional ini menghasilkan suara yang berisik tetapi tidak berisik di telinga, suara yang dihasilkan seperti gemericik udara yang mengalir.

Untuk memainkan alat musik ini sangat mudah, hanya dengan memutar badan alat musik akan menghasilkan suara. Potongan-potongan memiliki bentuk batang bambu panjang dan dibuang dan kemudian diisi dengan biji di bagian yang dimasukkan.

 

Calung

Calung

Calung adalah prototipe alat musik dan milik jenis alat musik idiofone yang terbuat dari bambu, Calung cukup terkenal oleh masyarakat Banyumas (bagian dari Kabupaten yang menyediakannya di Jawa Tengah). Hingga saat ini, kita tahu bahwa Calung memiliki 2 bentuk yang dikenal masyarakat luas, yaitu Calung Rantay dan Calung Jinjing.

Calung Rantay

Calung Rantay memiliki 7 wilahan (ruas bambu) atau lebih, tabungnya diregangkan dan disortir dari yang paling mahal. Cara bermain Calung rantay adalah dengan dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersila, Calung dapat ditemukan saat mengunjungi pohon atau bilik di daerah Banjaran, Bandung.

Calung Jinjing

Calung Jinjing terdiri dari 4-5 bambu, seperti Calung kingking (12 bambu), Calung Panepas (5 bambu), Calung Jongrong (5 bambu) dan Calung Gonggong (2 bambu). Cara menggunakan jenis Calung ini dengan memukulnya menggunakan tangan kanan dengan kelelawar dan tangan kanan memegang instrumen.

 

Degung

Degung

Degung adalah alat musik terkenal dari Sunda, menurut penggunaannya Degung dibagi menjadi 2 macam makna, yaitu perangkat gamelan Jawa dan juga sebagai bagian dari laras. Salendra biasanya digunakan untuk mengiringi acara-acara tradisional seperti boneka, tarian, kliningan, jaipongan dan lainnya.

Di masa lalu, Degung hanya tersedia untuk sling atau instrumental dan ada larangan musik yang digunakan dalam permainan Degung di Cianjur pada tahun 1912-1920, karena permainan musik ini mendukung pelepasan “keseriusan”.

Tidak hanya di Indonesia, ternyata Degung cukup global. Misalnya, jika Anda mencari literatur tentang instrumen ini, Anda dapat mengunjungi “Lingkungan Seni Warisan Sunda” di University of California.

Leave a comment